Tuesday, October 29, 2019

Recommended Horror Games for Newcomers of the Genre

Hello there and welcome to the exciting world of video games’ Horror Genre.

To a person who is entirely new to horror games, let it be known first what elements usually included in horror games. usually they are:

-Puzzle solving
-Backtracking (retracing back the path you took)
-Jump scares
-”QTE” or Quick Time Events
-Boss fights (battling one-on-one against a stage boss)

Now considering all of the elements above are usually included in a horror game, i would suggest newcomers to play the “Resident Evil” (RE) series first.
My recommendation from the RE series would be:

(1.) Resident Evil Origins Collection,
(2.) Resident Evil 2 Remake,
(3.) Resident Evil 4 and
(4.) Resident Evil 7 Biohazard.

FYI there are a LOT of other neat beautiful Horror games such as the “Fatal Frame series”, “Silent Hill series”, “Amnesia series”, and “Dead Space series” but the one that i considered “Newcomer-friendly” are the RE games.

Here’s why: (1.) it’s stories are pretty straightforward, so newcomers won’t be entirely confused with what is actually happening in the game’s story.

(2.) The hints for the puzzle are quite clear enough, for instance: your protagonist finds a steel door with a locked mechanism, besides the door there is a panel with keypads to enter a password. You, as the player, will guaranteed to immediately think “ooh i need a password for this”.

Now this is a good thing, cause i can guarantee not all horror games are quite clear on hints like on RE games, some other horror games are cryptic with hints and some games don’t even have hints for their puzzles at all, so RE games are excellent for newcomers.

(3.) In RE games, you have a higher chance of surviving if you manage your items and ammunition well, even on Hard difficulty.

The only thing i could think off that will come out as a drag for newcomers are the “backtracking”. At first i also felt the backtracking were a nuisance, but after a while you’ll forget it and keep playing the game as usual.

Honorable mentions of other horror games i played and i also recommend playing it: (1.) Alone in the Dark series, (2.) Obscure 1 and 2, (3.) Forbidden Siren series, (4.) Alan Wake, (5.) Alien Isolation, (6.) Condemned 1 and 2, (7.) Evil Within 1 and 2.

Sunday, August 26, 2018

Eight Games That Will Help You Build Your VR Legs

Hello there fellow VR headset owners.

So for those of you who just bought and are new to Virtual Reality (VR) experience, there is a thing called `VR Legs`, which you should get acquainted before delving into the VR world.

`VR legs` is the ability of your brain and body to not get sick and have nausea (motion sickness) during your VR session, or in simple term, your resistance to VR.

VR legs can be built through numerous sessions of playing. Here, i recommend a few games that personally helped me build my VR legs.

The list below are to be played sequentially according to numbers:

1.`Ocean Descent` from `Playstation VR Worlds` (I highly recommend games that are in sitting position first, to help you get used wearing the headset while moving your heads around. This is a warm up phase for the `movement` in VR)

2.`Thumper`( A rhythm game that is heavily influenced by synth music and horror, it helps your brain and body to cope with `speed` in VR)

3.`The London Heist` from `Playstation VR Worlds` (the game is about a mafia group stealing diamond in London, it involves sitting and also high speed car chase, should help you get used with the `movement and speed` in VR)

4.`Dying` (Now we’re starting to get serious, `Dying` is a First-Person horror-themed Room Escape puzzle game, should help you train with the “moving forward movement” in VR. A friendly WARNING though, If you start to feel dizzy while playing this game, take off your headset fast, place a fan in front of you, drink a glass full of water (mixed with ginger also help), and lie down for at least 15 to 30 minutes. Give it a moment until you are sure to be back into the game)

5.`VR Luge` (This is a high speed game, should help you build resistance to `high speed` VR games, WARNING, same steps as the above, If you start to feel dizzy while playing, take off your headset fast, place a fan in front of you, drink a glass full of water, and lie down for at least 15 to 30 minutes. Give it a moment until you are sure to be back into the game)

6.`Until Dawn: Rush of Blood`(This game is an arcade survival horror first-person shooter, you will be put into a roller coaster and start shooting killer clowns and demons along the way. The game helps you to shape your `aiming movement and get familiar with changes in speed in VR`)

7.`Rigs: Mechanized Combat League` (Now here’s a game that will test all of your efforts in building your VR legs. `Rigs` is an INTENSE shooting game, many running and jumping movements, Consider this game as a criterion in determining one’s VR legs. AGAIN, same as the above, If you start to feel dizzy while playing, take off your headset fast, place a fan in front of you, drink a glass full of water, and lie down for at least 15 to 30 minutes. Give it a moment until you are sure to be back into the game)

8.`Scavengers Odyssey` from `Playstation VR Worlds`(The FINAL TEST of your VR-legs-acquiring efforts, this game will test ALL OF THE ABOVE. It is a 360 DEGREE First-Person Shooter Game, in space! WARNING, if you start feeling nauseous or motion sick, take off your headset fast, and do the steps mentioned repeatedly above)

These eight games helped me a lot in building my VR legs, maybe you have other different list of games that could help all VR newbies out there acquiring their VR legs. Just don’t forget to take a repeated break (15 to 30 minutes, or more, according to your needs) during your VR sessions.

Cheers!


Sunday, February 22, 2015

Begini Cara Agar Anak Bijak Dalam Berbelanja

Illustration of Money. Image: Private Document
Sebagian besar orangtua masih berpikir untuk tak perlu terburu-buru dalam mengenalkan 'betapa pentingnya' uang pada si buah hati. Padahal, pelajaran tentang bagaimana cara mengelola uang dengan benar itu tidak diajarkan di sekolah mereka loh. Akan lebih baik jika pengenalan pada uang bagi anak kita dimulai dari kebiasaan sehari-hari di rumah yang bisa mereka contohi sedari dini.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk orangtua dalam membantu anaknya membuat keputusan yang baik dalam membelanjakan uang mereka, dan juga untuk memahami betapa pentingnya menabung bagi kehidupan mereka kelak:


1.Setelah anak Anda sudah belajar berhitung, kenalkanlah konsep dan nilai uang pada mereka. Sesuaikan pengenalan nilai uang dengan usia anak, melalui cara-cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku anak.

2.Orangtua adalah panutan pertama anak dalam belajar menghargai uang, jadi tunjukkanlah cara membelanjakan uang yang baik dan juga cara menabungnya.

3.Ajarkan anak Anda perbedaan antara ‘kebutuhan’ dan ‘keinginan’, agar kelak mereka dapat membuat keputusan berbelanja yang baik saat mereka tumbuh besar nanti.

4.Ketika anak sudah mulai bertambah usianya, berikanlah anak sebuah dompet dan celengan. Biarkan anak yang memilih dompet dan celengannya sendiri, agar dia merasa memiliki. Uang yang ada di dompet digunakan untuk jajan sehari-hari, sedangkan uang di celengan digunakan untuk membeli sesuatu dengan jangka waktu tertentu. Dompet dan celengan ini akan membantu anak semakin memahami sistem dasar dari pengelolaan uang mereka.

5.Membuat ‘target’ sangat penting dalam belajar menabung. Setiap mainan atau barang yang diinginkan anak bisa menjadi objek  dari sesi penentuan target menabung. ‘Target waktu’ misalkan, tabungan baru bisa diambil enam bulan sekali. Penentuan target seperti ini akan membantu anak-anak mengelola uang jajan mereka lebih teratur.

6.Saat memberikan uang jajan pada anak, berikan uangnya dalam pecahan nominal kecil. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong mereka mengalokasikan sebagian uang jajan mereka untuk ditabung. Contoh, jika jumlahnya Rp50,000 maka berikanlah dalam bentuk lima (5) uang pecahan Rp10,000. Motivasi mereka untuk menyimpan paling tidak satu lembar uang sepuluh ribu saja di celengan.

7.Jika celengan sudah penuh, bawa anak-anak ke bank untuk membuka rekening tabungan mlilk mereka sendiri dan menyimpan uang hasil tabungannya. Memulai kebiasaan menabung sejak awal adalah kunci untuk berhasil menabung.

8.Pergi ke mal atau supermarket biasanya adalah pengalaman pertama anak berbelanja. Tunjukkan bagaimana cara berbelanja barang dan bahan makanan secara ekonomis. Berbelanja bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan bila direncanakan dengan baik.

9.Ajak anak berdiskusi untuk menentukan barang yang ingin dibeli dengan hasil tabungannya. Berikan pertimbangan yang realistis, jangan sampai harga barangnya jauh lebih mahal dari jumlah tabungan. Prinsipnya, harga barang tersebut harus sebanding dengan perjuangan anak menyisihkan uang jajannya, sehingga manfaat dari menabung benar-benar dirasakannya.

10.Saat berbelanja, biarkan anak memilih sesuatu yang diinginkannya dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Manfaat mengajak anak membelanjakan tabungannya adalah agar sang anak betul-betul merasakan jerih payah menabung dan paham kalau untuk mendapatkan sesuatu itu ternyata butuh perjuangan. PGB

Monday, April 14, 2014

Aman Berselancar Internet untuk si Buah Hati

Image credit: Sageflash's personal document

Sekarang ini internet telah menjadi jendela bagi anak untuk mengetahui cakrawala dunia. Anak-anak sudah menggunakannya untuk mengerjakan proyek sekolah, berkomunikasi, dan bermain game.

Hanya saja, sangatlah penting untuk selalu mengawasi anak Anda kala berselancar internet. Memang internet itu sekarang menjadi pusat referensi segala informasi, tapi ada beberapa hal yang Anda tidak ingin sang anak ketahui dari sisi lain dunia maya tersebut.

Anak-anak harus diberitahu untuk selalu berhati-hati bila berkenalan dengan seseorang secara online, dan juga berhati-hati dalam membuat status mengenai diri sendiri di jejaring sosial.

Beritahukan kekhawatiran Anda pada sang buah hati soal berselancar di internet. Gunakan fasilitas opsi safe search atau family setting yang ada di bagian pengaturan internet browser. Selalu pantau laman-laman yang mereka kunjungi dengan melihat history pada browser Anda.

Di Amerika, sebuah hukum federal yang bernama Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA) dibuat untuk melindungi anak-anak berselancar internet. COPPA dirancang untuk mencegah orang lain memperoleh informasi pribadi tanpa sepengetahuan orangtua yang bersangkutan.

COPPA mewajibkan bagi setiap situs laman untuk menjelaskan kebijakan polis situs mereka dan mendapatkan persetujuan para orangtua sebelum memperoleh informasi pribadi anak mereka seperti nama, alamat dan nomor telepon. Hukum ini juga melarang situs apapun untuk memperoleh informasi lebih selain yang telah diizinkan untuk berpartisipasi dalam sebuah kontes online ataupun game online.

Hanya saja, meskipun hukum ini sudah berlaku, perlindungan yang terbaik untuk anak Anda berasal dari Anda sendiri. Bicaralah pada mereka soal potensi bahaya online. Selalu awasi mereka kala berselancar internet. Dengan begitu anak-anak juga akan terhindar dari resiko bahayanya.

TOOL PERLINDUNGAN ONLINE
Sekarang telah tersedia tool online yang mengatur akses anak Anda terhadap materi internet dewasa dan menjauhkan mereka dari para pemangsa anak di internet, disebut juga ‘internet predator’. Tapi ingat, dengan adanya tool ini bukan berarti berselancar internet sudah 100% aman.

Di Indonesia, sudah ada beberapa internet service providers (ISP) yang memberikan opsi parent-controluntuk memblokir materi tertentu masuk ke komputer. Anda juga dapat membeli software yang memblokir akses ke situs tertentu yang sudah Anda cantumkan sebagai situs berbahaya ke dalam ISP Anda. Minta anak Anda untuk membuat nama alias/internet untuk melindungi identitas asli mereka.

TURUT TERLIBAT
Ambil langkah peran aktif dalam melindungi buah hati Anda dari internet predator dan materi dewasa online yang eksplisit.

1.Pelajari komputer dan cari cara untuk memblokir materi yang berbahaya.
2.Letakkan komputer di ruang keluarga, bukan di kamar tidur anak, karena orangtua akan lebih mudah memonitor penggunaannya.
3.Berbagi akun email dengan anak, agar setiap pesan email dapat disaring.
4.Bookmark situs favorit anak untuk lebih mudah diakses.
5.Luangkan waktu online bersama untuk mengajarkan anak Anda sikap online yang baik.
6.Larang anak Anda masuk ke private chat room. Ingat kalau setiap kali posting pesan ke chat room maka email si pengguna akan terlihat.
7.Periksa biaya kartu kredit dan biaya telepon rumah jika terjadi kenaikan nominal harga yang mencurigakan.
8.Periksa apakah ada fasilitas perlindungan online di sekolah anak Anda, tempat kursus, rumah teman atau tempat-tempat lain yang tak bisa Anda awasi setiap saat.
9.Tanggapi keluhan anak Anda dengan serius jika mereka mendapat pesan aneh. Forward pesan-pesan yang bernada mengancam atau tidak etis pada ISP. Banyak situs yang memakai “cookies,” sebuah alat yang dapat melacak informasi spesifik mengenai si pengguna seperti nama dan alamat email. Cookies bisa dinon-aktifkan. Minta informasi lebih lanjut dari ISP Anda.

PERATURAN DASAR
-Buat peraturan sederhana untuk anak ketika mereka menggunakan internet.
-Patuhi peraturan yang Anda buat, termasuk yang dibuat oleh internet service provider.
-Jangan pernah bertukar foto pribadi di internet atau scan foto sendiri di warnet.
-Jangan pernah beri informasi pribadi seperti alamat, nomor telepon, atau sekolah.
-Jangan pernah janjian bertemu dengan seseorang yang dikenal lewat internet.
-Jangan merespon pesan email yang bernada mengancam.
-Selalu beritahu orangtua mengenai percakapan di internet yang membuat anak takut.
-Jika anak Anda punya “teman” baru, mintalah untuk dikenalkan via online padanya.

TANDA PERINGATAN
Tanda-tanda peringatan kalau anak Anda sudah dijadikan sasaran oleh online predator yaitu seperti menghabiskan waktu online berjam-jam di komputer, setiap malam mendapat telepon tak terduga dari orang tak dikenal, dan mendapatkan kiriman hadiah dari orang tak dikenal.

Kalau anak Anda tiba-tiba mematikan komputer saat kamu masuk ke dalam kamarnya, tanyakan kenapa dan awasi pemakaian waktu komputernya lebih ketat lagi. Sikap menjauhi anggota keluarga dan menghindari pembicaraan mengenai aktivitas online sang anak juga merupakan tanda-tanda awal yang harus diawasi.

Mengambil peran aktif di dalam aktivitas internet anak Anda akan menjamin mereka dapat memperoleh segala manfaat dari informasi yang ditawarkan internet tanpa harus mengalami potensi bahayanya. PGB

Monday, November 12, 2012

TREN TARIAN GANGNAM STYLE & FLASH MOB




Teks: Petir Garda Bhwana
  
Masyarakat kita sudah tidak asing dengan lagu-lagu Korea. Sudah dua tahun ini demam K-Pop boyband dan girlband negeri ginseng tersebut masih digemari oleh anak-anak remaja Indonesia. Selain memang musiknya yang nge-beat dan catchy, para artis yang menyanyikannya juga ganteng-ganteng dan cantik- cantik. Tapi siapa sangka, bukan cuma dengan modal wajah rupawan saja artis bisa melejit populer, lagu yang disertai dengan video dan tarian unik pun ternyata juga sanggup membuat seorang artis Korea bernama PSY menjadi fenomena dadakan di seluruh dunia. Bahkan tariannya yang bernama “Gangnam Style” itu jadi sering dilakukan beramai-ramai dalam sebuah kegiatan berkelompok yang disebut “Flash Mob”.

Apa cerita di balik tarian Gangnam Style? Dan bagaimana sejarah aktivitas Flash Mob bermula? Yuk kita ikuti penjelasannya!

“OPPA GANGNAM STYLE!”
Oppa Gangnam Style, yang artinya “saya bergaya Gangnam”, adalah judul sebuah lagu yang dibawakan oleh Park Jae-Sang, seorang penyanyi rap asal Korea Selatan yang lebih dikenal dengan nama PSY. Video klip musiknya diunggah ke situs Youtube pada 15 Juli 2012 lalu dan telah dilihat oleh lebih dari 400 juta pasang mata dari seluruh dunia, wow!

‘Gangnam Style’ itu sendiri merupakan istilah yang digunakan oleh warga Korea Selatan untuk menggambarkan gaya hidup mewah yang ada di daerah Gangnam, sebuah kawasan makmur dan trendi di Seoul. Gangnam terkenal sebagai area bisnis dan perumahan elit yang banyak dihuni oleh orang kaya raya, pengusaha dan artis terkenal. Pada video musik tersebut, PSY diperlihatkan sedang menari dan bernyanyi di berbagai lokasi yang ada di Gangnam. Video dan lirik lagu tersebut sebetulnya merupakan sebuah sindiran berbentuk parodi terhadap gaya hidup mewah orang-orang yang tinggal di daerah Gangnam.

TARIAN KOBOI MENUNGGANG KUDA
Pada suatu wawancara, PSY bercerita kalau tariannya itu diilhami dari gaya koboi yang sedang menunggang kuda. Gerakan dan langkahnya memang sederhana, tapi jika dilakukan dengan mengikuti nada dan dentuman lagu Oppa Gangnam Style, maka siapapun yang mencobanya pasti akan ketagihan.

Berkat videonya yang terkenal sampai ke berbagai manca negara, banyak dari selebriti dunia yang ingin mencoba langsung menarikan Gangnam Style dan mengundang PSY untuk datang ke negara mereka. Penyanyi pop Amerika Britney Spears termasuk yang beruntung dapat belajar langsung dari sang ahlinya pada suatu kesempatan di acara talkshow televisi di Amerika.

Menurut para penggemar tariannya, ada empat aturan dasar jika kita ingin menari ala Gangnam Style. Yang pertama adalah memakai aksesori seperti kaca mata hitam dan dasi kupu-kupu (jika ada), yang kedua adalah menggerakkan tangan seperti koboi hendak memutar-mutar laso, yang ketiga adalah melakukan gerakan menunggang kuda kasat mata, dan yang keempat adalah melakukan pose pengakhiran seluruh gerakan tari di akhir lagu dengan gaya ala James Bond.

Semua gerakan tersebut akan terlihat lebih sempurna jika dilakukan secara beramai-ramai. Karena itulah, para penggemar tarian Gangnam Style sering melakukan flash mob di berbagai tempat di Jakarta, seperti di mal dan Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada saat waktu Car Free Day (Hari Bebas Kendaraan Bermotor) setiap hari Minggu.

FLASH MOB
Mungkin kalian pernah lihat sekelompok orang berjumlah banyak menari suatu gerakan dansa secara serasi bersama-sama, atau diam mematung di suatu tempat publik yang luas. Nah, aktivitas seperti itu disebut Flash Mob. Jadi apa sebenarnya Flash Mob itu? 

Flash Mob dapat diartikan sebagai kelompok orang yang berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu hal secara bersamaan, seperti berteriak sorak sorai, joget, atau pun menjadi patung orang.

Flash mob selalu diawali dengan beberapa orang (sekitar 3 sampai 5 pelaku) sebagai pertanda kalau aksi telah dimulai. Tak lama kemudian beberapa orang yang tadinya berpura-pura sebagai pengunjung (padahal pelaku flash mob juga) akan ikut bergabung mengikuti aksi teman-temannya yang telah tampil lebih dulu. Lama-kelamaan jumlah pelaku flash mob akan terus bertambah dan apabila mereka sanggup menyelesaikan aksi mereka tanpa dibubarkan oleh pihak yang berwajib, artinya misi mereka telah sukses.

MASSA
Kelompok orang, atau massa Flash Mob, diatur aksinya melalui beragam media. Bisa melalui selebaran kertas pamflet, SMS, Blackberry Messenger, dan internet (seperti forum komunitas online, blog, news group, dan e-mail surat berantai). Biasanya aksi yang akan mereka lakukan ini ilegal (maksudnya tidak ada izinnya), tapi meskipun begitu kegiatan mereka bukanlah suatu kegiatan yang negatif. Hampir seluruh kegiatan flash mob sebenarnya adalah aksi seru-seruan bersama yang bermuatan positif, yaitu mengeratkan rasa persatuan antar sesama pelaku flash mob dan mengajak orang lain untuk berbagi kesenangan yang mereka rasakan.   

Sekarang ini, aksi massa flash mob jadi sering digunakan sebagai ajang mempromosikan suatu produk ataupun acara, bahkan yang baru-baru ini malah sampai digunakan dalam aksi kampanye partai politik.

AWAL MULA
Aksi flash mob pertama muncul pada awal tahun ’90-an di Belanda, dicetuskan oleh seseorang yang bernama Spoor. Dia membentuk suatu kelompok yang bernama ‘Teater Pejalan Kaki Zebra’.  

Saat itu, Spoor menyebarkan informasinya melalui selebaran kertas yang diberikan pada orang-orang di jalanan dan juga menempelkannya di pohon-pohon. Dia juga menghubungi aktor dan aktris lokal kota dan mengumumkan akan ada pertunjukan dadakan di kota mereka. Pertunjukan itu akan dilakukan di tempat para pejalan kaki biasanya berkumpul, yaitu suatu daerah perdagangan.

Tujuan Spoor saat itu adalah untuk meyatukan para pedagang di daerah tersebut, menghilangkan rasa persaingan di antara mereka. Ribuan buruh yang dinamakan ‘massa flash mob’ kemudian muncul, berdemo dengan tarian, sambil menuntut perdamaian dan menghapus perselisihan antar sesama pedagang.

Berawal dari peristiwa itu, beberapa tahun kemudian seorang senior editor majalah Harper’s Magazine yang bernama Bill Wasik mencoba untuk mengumpulkan orang-orang untuk melakukan aksi flash mob.

Pada Mei 2003, Wasik mencoba untuk menggelar flash mob di sebuah toko ritel di Manhattan namun usahanya gagal karena tidak mendapatkan izin akibat info soal aksi flash mob-nya bocor dan sampai ke telinga pemilik tokonya.

Pada percobaan flash mob kedua, yaitu Juni 2003, Wasik mencoba untuk menggelar aksi flash mob lagi di sebuah toko swalayan bernama Macy’s. Sekitar 130 orang datang ke toko itu, berpura-pura menjadi pengunjung. Tiba-tiba semuanya berkumpul dan bertepuk tangan secara berirama dan serempak selama 15 menit, membuat beberapa pengunjung lainnya (yang bukan pelaku flash mob) memadati lobi dan lorong toko tersebut kemudian ikut menari.

Wah, ternyata seru ya! Jadi apa kalian sekarang tertarik untuk bikin flash mob ala Gangnam Style? 

Monday, June 25, 2012

Nostalgia Sejuta Rasa

Rindu, senang, terharu, malu, berbaur menjadi satu. Teman-teman lama pun berkumpul kembali dalam reuni. Tetapi ada yang menyambutnya dingin..



 “Gue diberi fasilitas mobil, laptop, ponsel, dan baru-baru ini jam tangan oleh kantor. Bahkan di lounge kantor pun ada PlayStation,” ujar Freddy dengan rasa bangga. Di sekelilingnya, beberapa teman lama duduk mendengarkan. Ada yang terpukau dengan ceritanya, ada yang acuh, tidak sedikit juga yang pergi meninggalkan dia. Mungkin bosan, karena ocehan Freddy sejak 15 menit lalu selalu soal pekerjaan. Malam itu kami berada di dalam ballroom The Sultan Hotel, Jakarta, yang disulap menjadi ajang temu kangen para alumni sekolah. Sekitar 1.000 orang berkumpul di ruangan itu. Kelompok kecil kami hanya satu di antara banyak kumpulan yang mengobrol dan melepas kerinduan sambil mengenang masa lalu. Tampak beberapa guru kami pun juga hadir bersama para petugas sekolah.

Setelah hampir 20 tahun terpisah, tentu saja ada banyak perubahan yang terjadi. Jika dulu kami bertubuh mungil dengan seragam putih merah, kini ada yang berstatus menikah dan sudah menggendong anak. Beberapa teman pun telah memiliki karakter yang berbeda dari pada belasan tahun lalu. Seingat gue, Freddy dulu pasif dan tak banyak bicara. Banyak omong bukan gayanya. Karena berperawakan kecil, dia pernah dianggap kroco sehingga sering disuruh-suruh oleh murid pentolan di sekolah. Malam ini dia malah terlihat seperti bos, dengan perut agak bulat sedikit.

Penampilan Gerald, salah satu teman gue sewaktu zaman sekolah dulu, juga berubah. Sewaktu masa sekolah dulu, dia berperawakan sedang dan berpipi tembem. Sekarang, dia menjadi tambun dan bongsor. “Anak-anak (*kumpulan teman:red) sering kaget dengan perubahan fisik gue. Kalau ditanya kenapa bisa jadi berukuran besar begini? Ya gue jawab aja 'sering makan orang',” ujarnya tertawa.

Lain lagi dengan Marissa, yang akrab disapa dengan Icha. Gadis mungil yang dulu berpredikat sebagai anak pemalu itu, sekarang sudah menjadi artis sebuah drama sitkom “Suami-Suami Takut Istri” pada 2009 lalu. Tentu saja banyak yang tidak menyangka Icha akan berprofesi sebagai artis. Dulu Icha bukanlah gadis populer incaran para bocah laki-laki yang kenal cinta monyet. Meski tubuhnya sekarang tidak seaduhai super model, kepercayaan dirinya memancar jelas malam itu. Icha menyapa banyak orang yang mungkin baru mengenalnya lewat layar kaca.

Menjelang agak malam, gue coba berbaur dengan kelompok lain. Mereka duduk sedikit jauh di pojok ruangan, nyaris tak terlihat. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, gue akhirnya tahu kalau sebagian dari mereka masih ada yang belum seberuntung teman-teman lain.

Sebut saja Darwin salah satunya. Dia masih berjuang mencari pekerjaan baru, setelah beberapa bulan sebelumnya resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Dia selalu tampak tidak nyaman jika topik percakapan kami mulai mengarah pada soal-soal pekerjaan. Kalau ada teman lain yang tiba-tiba datang menanyakan perihal pekerjaan, Darwin berdalih. “Sekarang masih bantu-bantu usaha keluarga aja,” jawabnya singkat.

---

Sejak kedatangan Friendster, Facebook, Twitter, Blackberry Messenger dan hasil teknologi lainnya di tengah-tengah kita, menemukan sahabat lama semakin mudah. Acara reuni kecil pun kian mudah diwujudkan karena kita tak harus mengumpulkan banyak orang atau membentuk panitia. Tinggal berkirim pesan, tentukan waktu dan tempat, jadilah reuni. Tak perlu ballroom, kafe atau restoran saja sudah cukup untuk dijadikan tempat berkumpul. Itu sebabnya, undangan reuni kecil lebih sering datang daripada reuni akbar di ballroom dengan kapasitas ribuan orang seperti yang gue kunjungi kemarin. Sebenarnya, gue pribadi pun lebih menyukai reuni berskala kecil. Selain tidak bingung memilih teman ngobrol, karena saking banyaknya yang datang, biasanya reuni kecil itu dihadiri oleh orang-orang yang memang pernah merasakan suka-duka bareng, seperti teman satu kelas atau sahabat dekat.

Begitu mudahnya reuni masa kini, sehingga kita sering sekali mendapat e-mail atau pesan ajakan reuni dari teman sekolah, rekan-rekan kerja di kantor sebelumnya, teman seperjalanan saat liburan, teman kuliah, teman kursus, teman bermain dan masih banyak lagi. Ketika berjumpa, pembicaraan pun beragam, termasuk kenangan-kenangan indah di masa lalu. Nostalgia adalah magnet yang begitu kuat menggiring orang untuk menghadiri reuni. “Perasaan untuk kembali lagi ke masa-masa dulu untuk bernostalgia memang selalu ada dalam kita,” kata A. Kasandra Putranto, psikolog dari Himpsi Jaya (Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Dki Jakarta).

“Seru pokoknya, bisa ngobrol dan 'nostal-gila' dengan teman-teman SD,” ujar Angga, satu dari sekian teman sekolah gue yang masih berhubungan kontak sampai sekarang, “Reuni juga membantu gue dekat kembali dengan teman-teman SD yang sudah lama nggak ketemu.”

Reuni ternyata bisa membantu manusia menemukan jati dirinya kembali. “Secara tidak langsung, reuni menghubungkan mereka dengan “rumah” asal tempat mereka tumbuh dulu, melalui perjumpaan dengan orang-orang dari masa lalu,” ujar Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM., psikolog dari lembaga Personal Growth. Reuni bukan cuma membantu kita eksis lagi, tapi juga membantu pengukuhan diri kembali. Selain itu identitas diri pun bisa semakin kuat dengan menghadiri reuni. “Reuni membantu konstruksi biografi identitas kita. Dengan mengetahui kisah tentang identitas diri, kita lebih percaya diri menghadapi ketidakpastian di masa depan,” kata Roby Muhamad, Ph.D, dosen Fakultas Sosiologi di Universitas Indonesia

Tetapi tidak semua orang siap menyambut undangan reuni. Bono, salah satunya. Guru les komputer ini malah berpikir dua kali untuk mendatangi reuni. “Setiap bertemu teman lama, pertanyaan yang diajukan pertama kali pasti mengenai profesi,” jelasnya. “Tapi setelah gue jawab, mereka hanya merespon seperlunya dan tidak tertarik lagi untuk melanjutkan percakapan” katanya sedih.

Perasaan berkompetisi kadang tak bisa dihindarkan dari ajang reuni. “Orang-orang selalu ingin mengetahui sejauh mana perbedaan ukuran perekonomian mereka, khususnya dengan orang-orang yang mereka rasa memulai langkah hidupnya berbarengan,” ungkap Roby. Tak heran jika ada yang mudah merasa minder dengan pencapaian yang dianggap berbeda jauh dengan rekan lainnya. Akhirnya mereka memilih absen dengan berbagai alasan.

Tetapi ekonomi bukan satu-satunya masalah. Pipin misalnya, temannya istri gue. “Awalnya saya senang. Tetapi sewaktu tahu ada teman yang punya masalah sama saya juga datang, jadi males perginya,” katanya dengan nada sinis. Ia tak menjelaskan dendam yang tersimpan, meski akhirnya memutuskan tetap datang. “Tetapi ya jangan harap saya mau menyapa orang itu, melihat ke arahnya saja ogah!” katanya.

“Sebenarnya akan lebih baik bagi individu tersebut untuk mencoba bersikap berani menghadapi mereka, dan masa lalu, dengan keadaan dirinya yang sekarang,” ujar Ratih. “Hal tersebut akan membantunya melanjutkan kehidupan yang dijalaninya sekarang. Karena kalau tidak dilakukan, maka akan berpotensi untuk terus menghantuinya.”

---

Reuni ternyata bukan hanya ajang bernostalgia. Bagi mereka yang belum memiliki pasangan hidup, kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk menemukan cinta lama yang pernah hilang. Semasa SMP dulu, Ahmad Azhuri, disapa Heri, pernah menyukai seorang gadis. Sayang, ia tak sempat mengutarakan perasaannya. Ketika berjumpa lagi di acara reuni, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Serangan” pendekatan pun mulai gencar dilakukan. “Saya tidak menyangka bisa mendapat jodoh dari reuni,” kata Ulis Lisnawati, kekasih Heri. Pertengahan tahun ini, kedua alumni sebuah SMP di Bogor ini baru saja melangsungkan pernikahannya 7 bulan yang lalu.

Luka lama pun bisa hilang setelah reuni. Titania Wulansari, seorang karyawan swasta sudah membuktikannya. “Waktu SD dulu, saya musuhan berat dengan anak sok cantik itu,”  ujarnya. Penyebabnya adalah sang ketua kelas yang ganteng. Tita dan teman sekelasnya itu saling berebutan mencari perhatian darinya hingga berujung permusuhan berkepanjangan. Kini, setelah bertemu lagi di reuni, dia dan “musuh lama” itu malah membicarakan kekonyolan mereka sambil tertawa-tawa.

Nostalgia dalam reuni memang menjanjikan sejuta rasa. Banyak kejutan yang menanti Anda di acara itu. Jadi, kalau ada undangan reuni mampir ke Facebook, e-mail atau ponsel Anda, jangan ragu lagi. Jawab saja: Siap!  PGB            




Wednesday, May 9, 2012

IMAX 3D TECHNOLOGY - First Impression!

FULL ENTERTAINMENT TO THE MAX!



Awal Mei 2012, gue diajak sobat gue untuk menonton 'The Avengers', sebuah film superhero dunia Marvel arahan sutradara Joss Whedon yang terkenal dengan karyanya 'Buffy The Vampire Slayer' yang nge-hits di tahun '90-an.
The Avengers
Bukan sembarang teater yang kita datangi untuk menonton film The Avengers, sobat gue lagi gak mau setengah-setengah menikmati aksi laga para superhero legendaris tersebut, Cinema XXI telah meluncurkan format teater IMAX di Gandaria City - Jakarta untuk memenuhi dahaga para penggila film, jadilah akhirnya kita memesan tiket The Avengers 3D IMAX Premiere, yeaaah!

ENTER THE IMAX REALM
Meskipun harus menunggu 15 menit lebih lama dari jadwal seharusnya untuk bisa masuk ke ruang teater (gara-gara seorang selebriti berinisial TY yang datang bersama keluarganya DIDAHULUKAN oleh pihak 21 Cineplex), muncul dua pendapat dalam benak gue saat melangkah masuk ke ruangan teater. Pendapat pertama gue terhadap tata ruang teater IMAX di XXI adalah "posisi tempat duduknya kok tidak terlalu curam ya?"
Posisi tempat duduk penonton yang curam di IMAX negara lain
Di teater-teater IMAX yang terdapat di negara lain, penempatan posisi tempat duduk penonton diposisikan agak curam, hal ini dimaksudkan untuk membantu mata penonton mendapat ruang lingkup layar secara penuh, memenuhi mata, agar bisa mendapatkan efek ilusi nyata dari film yang ditampilkan tanpa terganggu oleh penampakan siluet kepala penonton lain yang duduk di depan kita.

Penempatan posisi tempat duduk yang curam untuk membantu
mata penonton mendapatkan scope layar secara penuh
Setelah diamati, mungkin saja yang jadi kendala adalah ukuran dan besar ruangan yang sanggup disediakan oleh pihak pengelola Mal Gandaria City kepada XXI untuk membangun teater IMAX ini. Bayangkan saja, jika ingin benar-benar mendapatkan full IMAX experience, ukuran teaternya paling tidak harus sebesar kubah raksasa Keong Mas yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)!

Keong Mas di TMII yang sudah lebih dulu menggunakan
teknologi IMAX, tapi belum 3D
Pendapat kedua, yes, layarnya memang sudah agak cekung - sesuai dengan format layar IMAX standar. Hanya saja kok tidak selebar dan sebesar yang ada di teater IMAX negara lain? jangan salah, ternyata layar IMAX ini sudah ada versi "mini"-nya.

Perbandingan layar IMAX sesungguhnya (Lincoln Square) dengan
yang sudah diperkecil (Empire 25)
Dari gambar di atas, kita bisa lihat kalau teater IMAX yang terdapat di Lincoln Square, Chicago, adalah ukuran layar IMAX yang sebenarnya, yaitu 23x30 meter. Nah, kalau yang ada di Gandaria City Jakarta, format layar yang kita pakai adalah 20x11 meter, tak begitu jauh dengan yang dipakai oleh teater sinema 'Empire 25 IMAX' di New York, yaitu 8,5x18 meter.

Di dalam situs www.daveonfilm.com, perilisan layar IMAX yang 'diperkecil' ini dikritik oleh Roger Ebert, seorang kritikus film dari media Chicago Sun-Times. Dia menjelaskan keberatannya pada media, seperti yang dikutip oleh situs 'Dave on Film': "Call it IMAX Lite, IMAX Junior, MiniMax or IMAX 2.0" as long as you don't just call it IMAX and confuse the customer!" (Sebut saja IMAX Lite, IMAX Junior, MiniMax atau IMAX 2.0, asal jangan disebut sebagai IMAX dan membuat para penonton salah paham!)

Menurut Ebert, agar tidak membingungkan penonton awam, lebih baik pihak IMAX mendirikan teater dan layar IMAX yang sesungguhnya, daripada mendirikan teater sinema biasa yang sistem proyeksinya telah dibuat lebih canggih dengan teknologi IMAX.

Tapi, beda kepala pasti akan beda pendapat. Angga, salah satu sobat gue yang juga seorang movie freak, tampak tidak keberatan ketika ditanya soal performa teater IMAX yang ada di XXI Gandaria City. "Keren banget! meskipun tidak sebesar dengan IMAX yang ada di negara lain, pokoknya masih tetap bisa puas nonton. Pokoknya gue tetap positive thinking-lah dengan IMAX disini." ujarnya. 

Gue sendiri? sebenarnya ada sih harapan untuk bisa menonton film 3D di layar IMAX yang berukuran paling tidak sama dengan ukuran layar yang ada di kubah Keong Mas, tapi kalau yang tersedia untuk khalayak umum masih yang berukuran 20x11 meter seperti yang ada di Gandaria City, ya why not? tidak usah jadi idealis bangetlah kalau soal hiburan, yang penting good entertainment. PGB